previous arrow
next arrow
Slider

Kesaksian Yanny & Fam

Saya tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan Pak Rudi apalagi harus mengalami hal2 rohani yg luar biasa yang menurut saya tidak masuk akal tapi benar2 terjadi dalam hidup saya. Kesaksian saya ini bermula dari pencobaan yang menimpa keluarga saya ketika ibu saya terkena serangan stroke di Amerika hingga koma dan sampai sekarangpun beliau masih dirawat di nursing home dalam posisi tidak sadar selama 10 bulan. Dalam perawatan, ibu saya harus dibolongi lehernya agar bisa bernapas dan perutnya dibolongi juga supaya cairan makanan bisa masuk ketubuhnya.

Ketika itu terjadi, saya hanya bisa menangis karena dokter meminta keputusan saya untuk mencabut alat bantu pernapasan ibu saya dengan segera. Merasa berdosa dan memikirkan adik saya yang di Jakarta belum bertemu ibu saya, akhirnya saya mengintruksikan dokter agar alat bantu napas ibu saya tidak dicabut. Dengan bantuan sponsor dari rumah sakit, akhirnya adik perempuan saya bisa datang ke Amerika untuk melihat ibu saya yang sedang sekarat. Saya yang sudah 15 tahun tinggal di Amerika bertemu kembali dengan adik saya setelah sekian lama. Hati saya berkecamuk ketika pertama kali bertemu adik saya, dia begitu kurus karena mengalami hidup yang sangat susah.

Demikianlah selama satu bulan ibu saya tinggal dirumah sakit dalam keadaan koma tapi keadaannya tidak kunjung membaik dan akhirnya pihak rumah sakit mengharuskan ibu saya pindah kenursing home karena perawatan dirumah sakit sudah maksimal. Demikianlah bulan demi bulan kami berdua bergantian menjenguk ibu kami dinursing home sampai akhirnya visa adik saya habis dan dia harus kembali ke Jakarta bln Nov thn lalu, tapi ternyata Tuhan punya rencana lain buat dia. Dua bulan setelah kembali dari Amerika, adik saya mendapat kecelakaan motor sampai harus dirawat diruang ICU karena mengalami pendarahan otak. Saya pulang ke Jakarta secepatnya menemui adik saya yang sudah dalam keadaan koma.

Saya tidak bisa berbuat apa2 selain cuma bisa menangis melihat dia yang sudah tidak berdaya dan keadaannya persis seperti ibu saya. Dokter sudah angkat tangan dan menghendaki pihak keluarga untuk mengambil keputusan segera. Pendeta yang mendoakan adik saya menyuruh saya untuk membaca Alkitab, Mazmur pasal 1-6 untuk adik saya. Ketika semua tamu sudah pulang, saya membaca Alkitab untuk dia dan setelah itu saya membisikan ketelinganya untuk meminta maaf buat segala kesalahan saya. Beberapa menit setelah itu, adik saya meninggal dengan tenang. Saya merasa sedih memikirkan adik perempuan saya meninggal sementara ibu sedang koma. Adik laki2 saya dua duanya juga sudah meninggal dalam usia muda. Yang satu meninggal dalam usia 1 tahun karena sakit jantung, dan yang satu lagi meninggal bunuh diri dalam usia 19 tahun dan ayah saya juga sudah meninggal karena sakit. Dirumah duka, saya berbicara dengan istri sepupu dan berkata kejadian buruk dan beruntun menimpa keluarga saya ini bukan rencana Tuhan, tapi saya merasa keluarga kami kena kutuk. Entah kutuk apa yang pasti satu persatu keluarga saya meninggal dan hidup kami juga tidak mendapat berkat. Adik saya hidup susah sekali dan sayapun mengalami bangkrut dalam bisnis saya di Amerika 4 tahun yang lalu. Saya kemudian mentelusuri dan menggabung cerita yang didapat dari keluarga ibu saya dan mengetahui bahwa nenek saya pernah membuat seseorang jatuh bangkrut dengan jalan yang tidak diberkati Tuhan karena mereka bersaing jualan.

Paman saya juga bercerita bahwa ketika muda dulu, ibu dan nenek saya pernah pergi kegua Macan untuk minta kaya karena mereka susah hidupnya. Hidup sayapun tidak lebih suci dari mereka. Sebagai seorang janda, saya terjatuh dalam dosa dengan melakukan hubungan jinah dengan pacar saya dan pernah menggugurkan kandungan 20 tahun yg lalu. Singkat cerita, saya dibawa istri sepupu menemui pendeta untuk didoakan dan akhirnya menerima pelepasan untuk pertama kalinya. Saya mengira pelepasan itu cuma ditumpangi tangan oleh pendeta untuk mendoakan saya tapi ternyata saya harus mengalami proses manifestasi yang luar biasa mengejutkan. Saya sadar waktu saya tertawa cekikikan seperti setan dan melolong panjang tapi saya tidak bisa mengkontrol suara yang keluar dari mulut saya. Mengalami 3 kali pelepasan tapi tetap mengalami manifestasi, akhirnya saya dibawa team doa menemui Pak Rudi.

Setelah melalui proses pengakuan dosa dan bercerita masalah keluarga saya, saya diberitahu beliau bahwa saya ditunggangi “roh maut” dan Pak Rudi menyarankan saya untuk berpuasa selama dua hari sebelum menjalani pelepasan karena roh yang menunggangi saya adalah setan yang paling tertinggi tingkatannya yaitu “Lucifer.” Demikianlah saya menjalani puasa, tapi dihari kedua saya dicobai iblis. Saya mengalami migraine dan muntah2 yang banyak berkali2 sampai hampir menggagalkan puasa saya. Ketika saya hendak baca Alkitab tapi listrik tiba2 mati sehingga saya tidak bisa membaca karena gelap. Puji Tuhan saya mendownload Alkitab di HP saya sebelumnya, sehingga saya bisa membaca Mazmur Pasal 91 untuk minta perlindungan Tuhan.

Sehabis berdoa, saya merasa kuat dan muntah2 saya berhenti, padahal malam itu saya hampir dibawa kedokter untuk berobat. Ketika bangun pagi, saya merasa pulih seperti sediakala dan saya kuatkan diri untuk berpuasa sampai jam 12 siang. Akhirnya malam itu saya mengalami pelepasan dengan dipimpin Pak Rudi dan team doanya. Ketika mengalami pelepasan, saya mendengar suara2 yang bergema luar biasa kencang diseluruh ruangan dan saya melolong dengan sangat kencang sekali. Puji Tuhan, roh maut berhasil dikeluarkan dari tubuh saya dan roh2 jahat lain yang menjadi kedagingan saya keluar juga. Demikianlah pelepasan demi pelepasan saya jalani dengan bantuan Pak Rudi dan team doanya, sampai yang ketiga kalinya saya dinyatakan sudah bersih. Malam setelah pelepasan, saya bermimpi melihat peti mati kosong sepertinya milik nenek saya dan saya melangkahinya. Kemudian saya melihat pintu dan berniat masuk sampai 2 kali tapi saya batalkan.

Saya cuma mengintip dari luar dan melihat seluruh ruangan gelap tapi saya melihat patung2 dewa Budha dan lilin merah yang menyala. Dalam mimpi saya batal masuk kepintu itu, saya kemudian berjalan dan melihat adik saya yang baru meninggal berkata sesuatu tapi tiba2 ada pendeta yang tidak saya kenal mendekati dan berkata untuk tidak menghiraukan perkataanya dan pendeta itu kemudian berjalan beriringan dengan saya. Saya bercerita kepada Pak Rudi apa makna mimpi saya dan beliau berkata bahwa saya melangkahi peti mati berarti saya sudah melampaui maut, puji Tuhan. Setelah pelepasan selesai, beberapa hari kemudian saya dibawa oleh istri sepupu saya untuk mengikuti kebaktian gereja di Greenville dan disitu saya mendapat karunia roh kudus untuk pertama kalinya. Pada mulanya saya tidak mengerti apa itu bahasa roh dan seringkali saya mengejek bahwa bahasa roh itu cuma mengada ada ketika mendengar/melihat pendeta atau orang2 lain berdoa dalam bahasa roh. Tapi hari itu istri sepupu saya berkata untuk minta kepada Tuhan agar dikarunia “roh kudus.”

Walaupun dalam hati saya masih tidak percaya, tapi saya berdoa minta Tuhan mengkaruniai saya bahasa roh kalau memang benar itu ada. Ketika berdoa dan mendengarkan orang2 berbicara bahasa roh digereja itu, tiba2 saya mengalami sesuatu yang aneh ditubuh saya. Saya merasa tangan dan jari2 saya menjadi kaku dan gemetar. Saya juga merasa hati saya seperti ditarik keluar sampai sakit sekali. Kemudian bibir saya mulai komat kamit berusaha mengeluarkan kata2 aneh disertai air mata mengalir dengan deras tanpa bisa saya bendung. Pada saat itu, saya cuma bisa berdoa dan kata2 yang keluar Cuma “Ampun Tuhan” dan “Terima kasih Tuhan” berkali-kali. Ketika doa selesai, saya masih belum mengerti apa yang telah terjadi atas diri saya. Setelah itu saya mendengarkan kotbah pendeta dan mengikuti perjamuan kudus. Tak lama doa dalam bahasa roh berlanjut kembali.

Saya berdoa seperti biasa tapi mengalami hal yang sama seperti tadi dimana tangan saya menjadi kaku dan kemudian bergerak dengan kencang dan hati saya ditarik kembali dengan sangat luar biasa sepertinya ada suatu kekuatan yang tidak terlihat yang berusaha mengangkat semua kepahitan dihati. Pada saat itulah bahasa roh keluar dengan kencang dari mulut saya dan anehnya saya tidak bisa membendung sama sekali kata2 aneh yang keluar dari mulut saya. Setelah selesai, saya merasa badan saya benar2 ringan sekali dan merasa hati saya terlepas total dari segala kepahitan. Apapun yang saya alami pada saat itu, saya tidak bisa melukiskan dengan kata2 atau membuat orang untuk percaya dengan cerita saya, tapi saya merasa Tuhan menyayangi saya dan memberi kesempatan buat saya untuk bertobat. Akhirnya saya berdoa kepada Tuhan minta petunjuk agar saya bisa dibaptis sebelum berangkat balik ke Amerika.

Seminggu setelah menerima karunia roh kudus, puji Tuhan saya akhirnya menerima pembaptisan di Jakarta. Saya merasa terlahir baru dan membawa pulang berkat ke Amerika untuk mendoakan ibu saya yang sedang koma agar Tuhan berikan jalan yang terbaik buat beliau. Saya sadar jalan saya masih panjang karena disamping harus mendoakan ibu saya, saya harus membawa ketiga anak2 saya untuk hidup dijalan Tuhan. Tapi saya merasa saya tidak akan sendirian lagi karena Tuhan akan menyertai saya dan membimbing langkah saya agar saya tidak salah melangkah lagi dan hidup menurut jalan yang Tuhan kehendaki. Satu hal yang saya sesali dan membuat saya suka menangis ketika berdoa jika teringat adik saya yang sudah meninggal. Semasa dia hidup, dia menginginkan saya untuk mencari Tuhan tapi saya mengabaikan nasihat dia. Sekarang saya sadar segala perkataan dia itu benar. Seandainya saya lebih perduli dengan keadaan dia dan mengerti lebih awal keluarga kami terkena kutuk dan ada hamba2 Tuhan seperti pak Rudi yang bisa menolong adik saya, mungkin maut tidak akan menjemput dia. Biarlah dengan kesaksian ini, saya belajar untuk merendah diri dan selalu hidup dijalan yang Tuhan kehendaki. Amin!