previous arrow
next arrow
Slider

Kesaksian kanker otak sembuh tanpa operasi

PUJI TUHAN, Saya pulih dari tumor otak
Nama saya Suriyani Magdalena, umur 36 tahun, menikah, asal Lampung. Sekarang ini tinggal di Tangerang bersama suami. Latar belakang saya berasal dari lingkungan salah satu kelenteng di Way Lunik – Bandar Lampung. Orang tua kandung saya berasal dari Jakarta. Saya sejak bayi diserahkan ke kelenteng khusus wanita tersebut . Sebelum menikah saya tinggal dan ikut menjadi pengurus di tempat ibadah tersebut selama bertahun tahun. Sejak remaja dan bahkan sampai dengan akhir thn 2015 lalu, saya sering melakukan ritual dalam kelenteng. Sejak menikah thn 2012 lalu saya beribadah di gereja ikut suami. Dan sejak Desember 2015 lalu saya pribadi mau serius beribadah di gereja dan mau meninggalkan cara hidup yg lama.

Sebenarnya sejak thn 2009 saya mengidap penyakit miom di rahim. Penyakit miom ini membuat saya sering mual dan pusing kepala karena kekurangan darah akibat miom tersebut. Setahun terakhir ini saya mengalami rontok rambut yg tidak normal (rontok nya banyak). Pada 27 Maret 2016 dini hari saya mengalami gelisah, sesak nafas, tidak bisa bicara dan seperti orang bingung. Menjelang pagi saya dibawa ke rumah sakit terdekat. Di ruang gawat darurat rumah sakit saya mengalami kejang parah yakni sekujur badan kejang mulut mengeluarkan busa dan muka membiru. Tekanan darah saya rendah, hb darah saya juga sangat rendah (6 dari seharusnya 12). Selama satu hari penuh hampir setiap 15 menit sekali saya mengalami kejang kejang (yg lebih ringan dibanding kejang pertama kali, gejalanya tangan kanan saya kaku dan bergetar serta mulut kaku dan bergetar selalu menegok ke kanan sambil mengeluarkan cairan, berlangsung sekitar 30 detik). Dokter di rumah sakit ini sama sekali tidak menangani kejang kejang yg saya alami, mereka hanya memberikan transfusi 2 kantong darah. HB saya malah tidak mengalami kenaikan siknifikan. Kondisi saya semakin memburuk apalagi fasilitas perawatan yg sangat minim.

Akhirnya saya dipindahkan ke RS Omni Alam Sutera. Selama perjalanan saya juga masih terus mengalami kejang kejang. Dokter IGD melakukan ct scan terhadap kepala dan dada saya. Dan ternyata hasil ct scan kepala (28 Maret 2016 ) saya suspect tumor otak disertai pendarahan. Dokter mengatakan tumor tersebut mengarah ganas karena tampak pembuluh pembuluh darah baru. Untuk memperkuat dugaan dokter syaraf maka saya diminta melakukan MRI pada 30 Maret 2016. Dan hasil MRI memperkuat suspect tumor otak (foto 5). Dokter menyarankan beberapa solusi seperti biopsi dan operasi tumor (ada keanehan pada gambar hasil ct scan yakni bentuk tumor tersebut menyerupai kepala seekor ular/naga tua, foto 1).

Selama 5 hari di Omni saya ditransfusi darah 4 kantong darah. Kondisi saya lebih stabil artinya tidak mengalami kejang kejang lagi. Namun saya masih tidak bisa bicara dan separuh badan saya rasanya berat dan tidak bisa digerakkan alias lumpuh separuh badan. Kesadaran saya sangat lemah. Hari ke-enam keluarga memutuskan untuk pindah ke RSU Siloam Karawaci. Dokter mengijinkan saya pindah ke rumah sakit lain dalam kondisi yg memungkinkan untuk pindah. Namun, pada hari itu saya mengalami kejang kejang yg parah seperti kejang pertama kali. Tekanan darah terlalu rendah, badan bergetar, muka membiru, dan kondisi tidak sadar. Saat itu saya harus masuk ICU di Omni.

Saat di ICU (2 April 2016) itu saya didoakan oleh Bpk Then Rudy Hadianto bersama tim. Beberapa jam setelah didoakan kondisi sy mulai membaik dan stabil. Sehingga dokter keesokan harinya (3 April 2016) mengijinkan saya pindah ke rumah sakit yg diinginkan oleh keluarga, yaitu RSU Siloam Karawaci. Dokter Siloam juga melakukan ct scan (4 April 2016) dan MRI (6 April 2016) pada kepala saya. Hasilnya sama dengan di Omni, saya suspect tumor bleeding ( foto 4 dan 6). Dokter syaraf dan bedah syaraf menganjurkan saya untuk biopsi dan operasi sebagai solusinya. Keluarga saya sementara menolak untuk operasi. Saya banyak didoakan oleh suami, keluarga, teman, handaitaulan, dan oleh Bpk Rudy ( gambar ct scan di Siloam berbeda dengan gambar ct scan di Omni, yakni gambar tumor tersebut berubah bentuk bukan bentuk kepala ular/naga lagi, foto 3). Sejak di Siloam kondisi saya mulai membaik.

Saya mulai sadar dan mulai berbicara satu dua kata, kaki kanan bisa digerakan, minum dan makan lewat mulut, dan saya mulai bisa mambaca Alkitab dan nyanyi puji-pujian.
Hari Senin 11 April 2016 di RSU Siloam saya didoakan kembali oleh Bpk Rudy. Saya dibimbing melakukan doa pelepasan dan saya bisa melakukannya. Puji Tuhan, kondisi saya semakin membaik. Saya semakin lancar bicara dan mulai bisa bangun sendiri dari tempat tidur. Tim dokter melihat ada perkembangan kondisi sakit saya. Hari Rabu 13 April 2016 saya diijinkan pulang ke rumah. Selama beberapa hari di rumah kondisi saya semakin membaik. Saya dapat berjalan normal, tangan kanan semakin hari semakin membaik dari sebelumnya tidak bisa bergerak, dan semakin lancar berbicara. Pada hari Minggu 17 April Bpk Rudy juga bersama tim kembali mendoakan saya di rumah.

Dokter RSU Siloam meminta saya melakukan MRI kembali pada tgl 30 April 2016 untuk memastikan kondisi penyakit saya. Pada saat MRI dilakukan saya merasakan jamahan Tuhan Yesus. Kepala saya terasa panas sesaat, MRI yg sebelumnya tidak merasakan apa apa. Puji Tuhan, hasil MRI menyatakan bahwa tidak ada atau tidak tampak “massa” atau tumor tersebut (foto 7). Dokter mengatakan yg ada hanya semacam pendarahan seperti orang terkena stroke. Saya hanya diberi vitamin otak, sedangkan obat dihentikan oleh dokter. Dokter menyarankan untuk kontrol dan tahun depan kembali melakukan MRI untuk berjaga jaga. Puji Tuhan, penyakit tumor otak saya sdh disembuhkan. Terima kasih Tuhan Yesus, terima kasih Bpk Rudy dan tim, terima kasih kepada semua yg telah turut mendoakan saya. Amin Haleluya.

kesaksian 1

kesaksian 2

kesaksian 3

kesaksian 4